BUDIDAYA UBI KAYU



I. KEADAAN U M U M
Ubi kayu termasuk tanaman tropis, tetapi dapat pula beradaptasi dan tumbuh
dengan baik di daerah sub tropis. Secara umum tanaman ini tidak menuntut iklim
yang spesifik untuk pertumbuhannya. Namun demikian ubi kayu akan tumbuh
dengan baik pada iklim dan tanah sbb:
Iklim:
Curah hujan        : 750 -1.000 mm/thn
Tinggi tempat      : 0 -1.500 m dpl
Suhu : 25 derajat - 28 derajat Celsius
 
Tanah:
Tekstur : berpasir hingga liat, tumbuh baik pada tanah lempung
berpasir yang cukup hara
Struktur  : gembur
pH Tanah : 4,5 - 8 , optimal 5,8


II. BIBIT
Bibit ubi kayu yang baik, berasal dari tanaman induk yang mempunyai persyaratan :
1. Produksi Tinggi
2. Kadar tepung tinggi
3. Umur genjah ( 7 - 9 bulan )
4. Rasa enak
5. Tahan terhadap Hama dan Penyakit
Ubi kayu ditanam dari stek batang, syarat stek batang ubi kayu yang siap ditanam
adalah sbb:
- Ubi kayu telah berumur 7-12 bulan, diameter 2,5-3cm, telah berkayu, lurus dan
masih segar
- Panjang stek 20 - 25 cm, bagian pangkal diruncingi, agar memudahkan
penanaman, usahakan kulit stek tidak terkelupas, terutama pada bakal tunas
- Bagian batang ubi kayu yang tidak dapat di gunakan untuk ditanam adalah
15-20cm pada bagian pangkal batang dan 20 - 25 cm pada bagian ujung atau
pucuk tanaman


III. PENGOLAHAN TANAH
Waktu mengerjakan tanah sebaiknya pada saat tanah tidak dalam keadaan becek
atau berair, agar struktur tanah tidak rusak. Tujuan pengolahan tanah adalah: agar
tanah menjadi gembur sehingga pertumbuhan akar dan umbi berkembang dengan
baik.
Cara pengolahan:
1. Tanah ringan/gembur : tanah dibajak atau di cangkul 1-2 kali sedalam kurang
lebih 20 cm, diratakan langsung ditanami
2. Tanah berat dan berair: tanah dibajak atau di cangkul 1 - 2 kali sedalam
kurang lebih 20cm, dibuat bedengan-bedengan atau guludan juga dibuat
saluran drainase, baru dapat ditanam


IV. PENANAMAN
Penanaman ubi kayu dapat dilakukan setelah bibit/stek dan tanah disiapkan. Waktu.
yang baik untuk penanaman adalah permulaan musim hujan. Hal ini disebabkan ubi
kayu memerlukan air terutama pada pertumbuhan vegetatif yaitu umur 4-5 bulan,
selanjutnya kebutuhan akan air relatif lebih sedikit.
Jarak tanam tanaman ubi kayu secara monokultur: 100 x 100 ; 100 x 60 ; 100 x 40.
Jarak tanam tanaman ubi kayu secara tumpang sari:
- Ubi kayu dengan kacang tanah 200 x 60 cm.
- Ubi kayu dengan jagung 100 x 60 cm.
Cara menanam ubi kayu dianjurkan stek tegak lurus atau minimal membentuk sudut
60 derajat dengan tanah dan kedalaman stek 10 - 15 cm.
 


V. PEMUPUKAN
Untuk mencapai hasil yang tinggi perlu diberikan pupuk organik ( pupuk kandang,
kompos dan pupuk hijau ) dan pupuk an organik ( Urea, TSP, KCL ). Pupuk organik
sebaiknya diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah. Tujuan utama pemberian
pupuk ini adalah untuk memperbaiki struktur tanah. Pupuk an-organik diberikan tergantung
tingkat kesuburan tanah. Pada umumnya dosis pupuk anjuran untuk
tanaman ubi kayu adalah:
- Urea : 60 - 120 kg hl/ ha
- TSP : 30 kg P205/ ha
- KCL : 50 kg K20/ ha
Cara pemberian pupuk adalah:
a. Pupuk dasar : 1/3 bagian dosis Urea, KCL., dan seluruh dosis P (TSP)
diberikan pada saat tanam
b. Pupuk susulan : 2/3 bagian dari dosis Urea dan KCL diberikan pada
saat tanaman berumur 3 - 4 bulan

Catatan: Untuk mendapatkan hasil yang optimal, tambahkan pupuk mikro plant activator dengan jumlah dosis 1/10 pupuk makro (urea, Tsp, atau KCL, atau NPK).


VI. PEMELIHARAAN
Pemeliharaan tanaman perlu dilakukan untuk mendapatkan tanaman yang sehat,
baik, seragam dan memperoleh hasil yang tinggi. Pemeliharaan ubi kayu meliputi:


Penyulaman
Apabila ada tanaman ubi kayu yang mati atau tumbuh sangat merana harus
segera dilakukan penyulaman. Waktu untuk penyulaman paling lambat 5 minggu
setelah tanam.


Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dilakukan apabila sudah mulai tampak adanya gulma (tanaman
pengganggu). Penyiangan kedua dilakukan pada saat ubi kayu berumur 2-3 bulan
sekaligus dengan melakukan pembumbunan. Pembumbunan dilakukan untuk
memperbaiki struktur tanah sehingga ubi kayu dapat tumbuh dengan sempurna,
memperkokoh tanaman supaya tidak rebah.


Pembuangan tunas
Pembuangan tunas dilakukan pada saat tanaman berumur 1-1,5 bulan, apabila
dalam satu tanaman tumbuh lebih dari dua tunas.
 
VII. HAMA DAN PENYAKIT
Hama penting bagi tanaman ubi kayu adalah: Tungau daun merah dan Kumbang.
Sedangkan penyakit yang sering menyerang ubi kayu adalah:
Layu bakteri dan Bercak daun.
Untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit pada tanaman ubi kayu adalah :
- Sanitasi lapang setelah panen ( sisa tanaman dibakar )
- Menggunakan bibit yang sehat dari varietas tahan penyakit
- Pengolahan tanah secara sempurna
- Pergiliran tanaman dengan palawija/tanaman lainnya
(YS/ 150 / 95)
 
Sumber: Anom, 1988. Usahatani Ubi Kayu, Departemen Pertanian
Anom, 1989. Ubi Kayu, Departemen Pertanian
Anom, 1989. Gema Penyuluhan Pertanian. Departemen Pertanian

Alternatif lain pupuk tanaman di pekarangan rumah

Karena harga pupuk kimia mahal atau mungkin karena malas untuk pergi beli pupuk ke toko pupuk, kita selalu menelantarkan tanaman yang ada dipekarangan rumah kita sehingga tanaman dipekarangan rumah seperti pohon mangga, pohon jambu , bunga-bunga ditaman tampak layu.   Padahal sebenarnya kalau kita mau, banyak yang bisa kita lakukan untuk tanaman kesayangan  kita  sehingga unsur hara yang  dibutuhkan tanaman tetap tersedia. Berikut beberapa  allternatif  yang bisa digunakan untuk pupuk tanaman kita yang biayanya sangat murah dan malah bisa gratis dengan memanfaatkan apa yang ada dirumah kita. Apa saja itu?

  • Air Bekas Cuci Beras
Daripada air beras dibuang begitu saja, saya selalu memanfaatkannya untuk menyiram tanaman. Jangan kena daun ya karena akan membuat bercak putih pada daun. Cukup siramkan langsung pada tanah.

Air cucian beras mengandung Vitamin B1 mempunyai peranan di dalam metabolisme tanaman dalam hal mengkonversikan karbohidrat menjadi energi untuk menggerakkan aktifitas di dalam tanaman, sehingga dengan demikian tanaman yang mengalami stres karena kondisi bare root (pengiriman tanpa media) ataupun dikarenakan pemindahan tanaman ke media baru, segera melakukan aktifitas metabolisme untuk beradaptasi dengan lingkungan ataupun media yang baru. Untuk tanaman yang sudah sehatpun akan menjadi lebih tidak gampang stres.
  • Air Teh
Kalau semalam Anda membuat teh dan lupa meminumnya. Jangan buang teh itu karena sangat bermanfaat. Salah satu manfaatnya dapat menyuburkan tanaman. Caranya cukup dengan menyiramkan bagian akar dan tanah dengan menggunakan air teh basi tersebut.

  • Ampas Kopi
Bila Anda gemar meminum kopi, jangan buang ampasnya. Ampas kopi kaya kandungan Nitrogen, Fosfor dan Potasium (NPK) yang dibutuhkan tanaman. Demikian yang dirilis oleh soil and plant laboratory inc California amerika serikat. Oleh karenanya tebarkan ampas kopi disekitar perakaran tanaman dan sayuran dipot. Kandungan hara diampas kopi terurai pelan-pelan. Sumber majalah trubus edisi 500

  • Air Sisa Rebus Telur
Telur adalah salah satu sumber protein yang sangat penting. Biasanya Anda apakan air sisa rebusan telur?. Hampir semua orang pasti membuang air tersebut begitu saja. Ternyata air sisa rebusan telur tersebut dapat di gunakan sebagai pupuk tanaman.

Rekomendasi Pemupukan Kelapa Sawit


Pemupukan  Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) :
  • Dosis pupuk ditentukan berdasarkan umur tanaman, jenis tanah, kondisi penutup tanah, kondisi visual tanaman.
  • Waktu pemupukan ditentukan berdasarkan jadual, umur tanaman.
  • Pada waktu satu bulan, ZA ditebar dari pangkal batang hingga 30 - 40 Cm.
  • Setelah itu ZA, Rock Phosphate, MOP dan Kieserit ditaburkan merata hingga batas lebar tajuk.
  • Boron ditebarkan diketiak pelepah daun
  • ZA, MOP, Kieserite dapat diberikan dalam selang waktuyang berdekatan.
  • Rock Phosphate tidak boleh dicampur dengan ZA. Rock Phosphate dianjurkan diberikan lebih dulu dibanding pupuk lainnya jika curah hujan > 60 mm.
  • Jarak waktu pemberian Rock Phosphate dengan ZA minimal 2 minggu.
  • Pupuk MOP tidak dapat diganti dengan Abu Janjang Kelapa Sawit.
 
Standar Dosis Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Kelapa Sawit
Pada Tanah Gambut :
Umur
(Bulan)*
Dosos  Pupuk (gram/pohon)
Urea
Rock Phosphate
MOP
( KCl)
Dolomit
HGF-B
CuSO4
Lubang tanaman
-
-
-
-
-
25
3
100
150
200
100
-
-
6
150
150
250
100
-
-
9
150
200
250
150
25
-
12
200
300
300
150
-
-
16
250
300
300
200
25
-
20
300
300
350
250
-
-
24
350
300
350
300
50
-
28
350
450
450
350
50
-
32
450
450
500
350
-
-
 *) Setelah tanam di lapangan
 
 
Standar Dosis Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
Pada Tanah Mineral :
Umur
(Bulan)*
Dosos  Pupuk (gram/pohon)
Urea
TSP
MOP
( KCl)
Kieserite
HGF-B
Rock Phosphate
Lubang tanaman
-
-
-
-
-
500
1
100
-
-
-
-
-
3
250
100
150
100
-
-
5
250
100
150
100
-
-
8
250
200
350
250
20
-
12
500
200
350
250
-
-
16
500
200
500
500
30
-
20
500
200
500
500
-
-
24
500
200
750
500
50
-
28
750
300
1.000
750
-
-
32
750
300
1.000
750
-
-
 *) Setelah tanam di lapangan

Arti dan Manfaat Pupuk Makro dan Pupuk Mikro

Setiap tanaman mempunyai kebutuhan pupuk / unsur hara untuk pertumbuhan dan perkembangannya dengan jumlah kebutuhan yang berbeda – beda berdasarkan jenis tanaman dan kondisi lingkungannya. Secara umum pupuk dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu pupuk makro dan pupuk mikro, yang bisa diperjelas seperti berikut :

Pupuk makro
Unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang relatif besar. Beberapa unsur hara ini diantaranya : Nitrogen (N), Phospat (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S).
 
Pupuk mikro
Unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang relatif kecil. Unsur hara ini diantaranya : Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Molibdenum (Mo),  Tembaga/cuprum (Cu), Seng (Zn), Cobalt (Co), Natrium (Na), Silikon (Si), Nikel (Ni), dan Klor (Cl)
 
Fungsi masing – masing unsur hara :
Nitrogen ( N )
- Merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan
- Berfungsi untuk sintesa klorofil, asam amino dan protein dalam tanaman
- Merangsang pertumbuhan vegetatif  seperti batang dan daun
Gejala defisiensi / kekurangan unsur N  :
- Pertumbuhan lambat / kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati
Phospat ( P )
- Berperan terhadap pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman
- Merangsang pembungaan dan pembuahan
- Merangsang pertumbuhan akar
- Merangsang pembentukan biji
- Merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel
Gejala defisiensi / kekurangan unsur P :
Pembentukan buah dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan ( kurang sehat )
Kalium ( K )
- Berfungsi dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, enzim dan mineral termasuk air.
- Meningkatkan daya tahan/kekebalan tanaman terhadap penyakit
Gejala defisiensi / kekurangan unsur K :
Batang dan daun menjadi lemas/rebah, daun berwarna hijau gelap kebiruan tidak hijau segar dan sehat, ujung daun menguning dan kering, timbul bercak coklat pada pucuk daun.
Magnesium (Mg)
- Berperan dalam transportasi enzim
- Komponen inti pembentukan klorofil dan enzim
- Berperan dalam sintesis protein
Gejala defisiensi Mg :
Terbentuk sel-sel berukuran besar tetapi encer. Jaringan menjadi lemah dan jarak antar ruas panjang. Ciri-ciri persis seperti gejala etiolasi-kekurangan cahaya pada tanaman. Muncul bercak-bercak kuning di permukaan daun tua. Hal ini terjadi karena Mg diangkut ke daun muda.
Kalsium (Ca)
- Berperan dalam pertumbuhan sel
- Menguatkan , dan mengatur daya tembus , serta merawat dinding sel
- Berperan sangat penting pada titik tumbuh akar
- Berperan dalam proses pembelahan dan perpanjangan sel, dan mengatur distribusi hasil fotosintesis.
Gejala kekurangan kalsium :
Terjadi perubahan bentuk daun, mengeriting, kecil, dan akhirnya rontok. Kalsium menyebabkan tanaman tinggi tetapi tidak kekar.  pembentukan dan pertumbuhan akar terganggu, dan berakibat penyerapan hara terhambat. Karena berefek langsung pada titik tumbuh maka kekurangan unsur ini menyebabkan produksi bunga terhambat. Bunga gugur juga efek kekurangan kalsium.
Belerang (S)
- Berperan dalam  pembentukan asama amino sistin, sistein dan metionin.
- Belerang juga berfungsi sebagai aktivator, kofaktor atau regulator enzim dan berperan dalam proses fisiologi tanaman
Gejala defisiensi S :
- Menyebabkan terjadinya klorosis seperti tanaman kekurangan nitrogen
- Menekan pertumbuhan tunas dari pada pertumbuhan akar
- Pada daun muda  warna daun  menguning  ( Penurunan kandungan klorofil secara drastis pada daun merupakan gejala khas pada tanaman yang mengalami kahat S )
- Terhambatnya sintesis protein yang berkorelasi dengan akumulasi N dan nitrat organik terlarut
Ferrit / besi (Fe)
-  Berperan dalam pembentukan klorofil,
- Berperan pada proses-proses fisiologis tanaman seperti proses pernapasan
- Sebagai aktifator dalam proses biokimia didalam tanaman, dan pembentuk beberapa enzim
Gejala kekurangan Fe :
- Gejala klorosis dan daun menguning atau nekrosa
- Daun muda tampak putih karena kurang klorofil
- Terjadi karena kerusakan akar
Tembaga / Cupprum (Cu)
- Berperan sebagai aktfiator enzim dalam proses penyimpanan cadangan makanan,
- Katalisator dalam proses pernapasan dan perombakan karbohidrat, – Salah satu elemen dalam proses pembentukan vitamin A dan secara tidak langsung berperan dalam pembentukan klorofil
Gejala kekurangan Cu :
- Daun berwarna hijau kebiruan ,
- Tunas daun menguncup dan tumbuh kecil
- Pertumbuhan bunga terhambat.
Seng / zink (Zn) :
- Sebagai katalisator dalam pembentukan protein
- Mengatur pembentukan asam yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh tanaman
Gejala kekurangan Zn :
Dapat menyebabkan klorosis, ruas pada bagian pucuk lebih pendek, pembentukan bakal buah terhambat atau tanaman tidak dapat sama sekali berbuah, pembentukan warna kuning diantara tulang daun.kemudian diikuti kematian pada jaringan daun, ukuran menjadi lebih kecil, sempit dan menebal.
Molibdenum (Mo)
- Berperan sebagai pengikat nitrogen yang bebas diudara untuk pembentukan protein
- Menjadi komponen pembentuk enzim pada bakteri bintil akar tanaman.
Gejala kekurangan unsur Mo :
Daun berubah warna keriput dan melengkung seperti mangkok, muncul bintil-bintil kuning disetiap lembaran daun dan akhirnya mati sehingga pertumbuhan tanaman terhenti
Klorida (Cl)
- Berperan dalam proses fotosintesis
- Pengaturan tekanan osmosis didalam sel tanaman.
Gejala kekurangan Cl :
Pertumbuhan akar yang tertekan, daun layu dan berwarna kuning.
Boron (B)
- Berperan dalam pembentukan dinding sel
- Pembentukan buah, pembentukan titik tumbuh
Gejala Defisiensi B :
Daun dengan tanda-tanda yang mengering dan kurus, ujung daun menjadi coklat, apabila temperatur tinggi dan tanaman kekurangan B dapat menyebabkan kelopak bunga menjadi pecah (calyx splinting) atau dapat juga sebagai akibat perbedaan temperatur udara siang dan malam terlalu tinggi (lebih dari 10°C), pertumbuhan rata-rata tanaman merosot, pertumbuhan kerdil dengan ruas-ruas yang pendek dan dapat juga berhenti pertumbuhannya, batang dari tanaman kaku menjadi pecah-pecah/retak.
Mangan (Mn)
- Berfungsi dalam pembelahan sel dan di gunakan dalam proses pernapasan dan fotosintesis.
Gejala Defisiensi Mn :
Daun akan tampak berwarna gelap dan muda, perkembangan kuncup akan mengalami kegagalan, dan pertumbuhan tanaman terhambat.
Cobalt (Co)
Untuk Fiksasi nitrogen dalam penyerapan unsur N (Nitrogen), Cobalt dapat digantikan perannya dengan Natrium (Na), dan Molibdenum (Mo).
Natrium (Na)
Sebagai keseimbangan ion pada regulasi energi untuk membuka dan menutupnya stomata.
Silicon (Si)
Tersimpan dalam dinding sel yang mengakibatkan sifat mekanis sel yaitu kaku atau elastis.
Nikel (Ni)
Pada tanaman Keras/tumbuhan tingkat tinggi sebagai aktivasi urease (enzim yang berperan dalam metabolisme Nitrogen untuk proses perombakan urea). Pada tanaman tingkat rendah, sebagai kofaktor beberapa enzim. Perannya dapat digantikan dengan  Seng (Zn) dan Besi (Fe).
 
Pustaka :
Lahuddin, M. 2007. Aspek Unsur Mikro dalam Kesuburan Tanah. Medan: USU
Notohadiprawiro, T. 1990. Farming Acid Mineral Soils for Food Crops : an Indonesian Experience. Dalam : E. T. Craswell and E. Pusparajah (eds). Management of Acid Soils in the Humid Tropics of Asia. ACIAR. Monograph. No. 13: 62- 68.
Widjaja – Adhi, IP.G. 1996. Penggunaan uji tanah dan analisa daun sebagai dasar rekomendasi pemupukan. Dalam Pelatihan Optimalisasi Pemupukan Proyek Pembinaan Kelembagaan Litbang Pertanian bekerjasama dengan Faperta IPB, Bogor, 19-31 Januari 1996

Metode Pemupukan Terhadap Tanaman Karet



Tanaman karet adalah tanaman tahunan yang dapat tumbuh sampai umur 30 tahun. Habitus tanaman ini merupakan pohon dengan tinggi tanaman dapat mencapai 15-20 meter. Modal utama dalam pengusahaan tanaman ini adalah batang setinggi 2,5 sampai 3 meter dimana terdapat pembuluh latek. Oleh karena itu fokus pengolahan tanaman karet ini adalah bagaimana mengelola batang tanaman ini seefisien mungkin. 

Metode pemupukan pada tanaman karet diperlakukan dengan dua cara, cara yang pertama pemupukan terhadap tanaman belum menghasilkan (TBM), dan pemupukan tanaman karet yang menghasilkan (TM). Pada pemupukan tanaman karet belum menghasilkan berfungsi untuk mempercepat tanaman sampai matang sadap. Sedangkan pemupukan pada tanaman karet menghasilkan didasarkan pada analisis tanah dan daun yang dapat dilakukan 1 sampai 2 tahun sekali. Hal ini dilakukan agar pemupukan tersebut dilakukan agar kualitas lateks yang dihasilkan dari tanaman karet tetap terjaga. Program pemupukan secara berkelanjutan pada tanaman karet harus dilakukan dengan dosis yang seimbang dua kali pemberian dalam setahun. Jadwal pemupukan pada semester 1 yakni dimulai pada bulan januari hingga februari, pada semester 2 dimulai pada bulan juli hingga agustus.

Tanaman karet tentunya membutuhkan beberapa unsur hara yang sangat penting untuk pertumbuhan batang karet agar dapat subur dan cepat besar serta cepat produksi. Adapun mengenai hal tersebut, pupuk yang sering digunakan untuk tanaman karet yaitu pupuk Urea, SP36, dan KCL. 
Dalam pemupukan tanaman karet ada dua hal yang perlu di perhatikan. Yang pertama yaitu pemupukan yang diperlakukan terhadap tanaman karet belum menghasilkan (TBM) dan yang kedua pemupukan terhadap tanaman karet yang menghasilkan (TM).

1.    Pemupukan pada tanaman belum menghasilkan (TBM)
Pemupukan pada TBM berfungsi untuk mempercepat tanaman mencapai matang sadap. Pada umumnya unsur yang diberikan adalah N, P, K dan Mg dengan dosis sesuai anjuran pada daerah setempat. Pupuk ini diberikan dua kali dalam setahun yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Jika dirasa perlu, penggunaan pupuk daun juga dapat dilaksanakan. Dosis pupuk untuk tanaman belum menghasilkan dapat dilihat tabel seperti  dibawah ini:
Umur Tanaman
Urea (g/pohon/th)
SP 36
KCL
Frekuensi Pemupukan
Pupuk dasar
-
125
-
-
1
2
3
4
5
250
250
250
300
300
150
250
250
250
250
100
200
200
250
250
2 kali/th
2 kali/th
2 kali/th
2 kali/th
2 kali/th

2.    Pemupukan pada tenaman menghasilkan (TM)  
Pemupukan pada tanaman menghasilkan didasarkan pada analisa tanah dan daun yang dapat dilakukan 1 sampai 2 tahun sekali. Oleh karena itu untuk masing-masing daerah dosis pupuk yang diberikan sangat bervariasi. Pupuk diberikan dengan cara disebar disekitar daerah perakaran tanaman lalu dicampur dengan tanah. Pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun yaitu pada awal dan akhir musim hujan. Rekomendasi umum untuk pemupukan tanamn menghasilkan dapat dilihat tabel seperti dibawah ini:

Umur Tanaman
Urea (g/pohon/th)
SP 36
KCL
Frekuensi Pemupukan
6-15
16-25
>25 sampai 2 tahun sebelum peremajaan
350
300
200
260
190
-
300
250
150
2 kali/th
2 kali/th
2 kali/th

       
Sebelum melakukan pemupukan pada tanaman karet yang telah menghasilkan yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah melakukan pembersihan kebun. Kebun karet yang baik adalah kebun yang bebas dari tanaman pengganggu agar tidak terjadi persaingan kompetitif dalam penyerapan unsur hara dalam tanah. Apabila tanaman pokok terganggu dalam pencarian makanan atau dalam penyerapan unsur hara tanaman, maka proses reproduksi terganggu sehingga hasil produksi getah akan berkurang.

Pupuk Urea mengandung unsur hara N (nitrogen) 46% dalam setiap berat 100 gram, fungsi dari pupuk urea ini adalah membuat daun karet menjadi hijau mengkilat serta meningkatkan pertumbuhan batang agar menjadi besar serta cabang pohon karet dan juga peningkatan jumlah hasil sadap tanaman karet. Pupuk SP36 merupakan sumberdaya posfor untuk tanaman karet serta mudah larut dalam air, fungsi dari pupuk ini adalah mempercepat pertumbuhan akar agar pohon karet tahan terhadap kekeringan di musim kemarau, meningkatkan hasil produksi getah karet, menambah ketahanan terhadap hama penyakit tanaman karet. Pada pupuk KCL memiliki fungsi dalam mempercepat proses unsur metabolisme unsur nitrogen dan zat-zat unsur hara lainnya pada tanaman karet, menambah daya tahan batang karet agar tidak roboh atau tumbang. 

Selain itu, sebelum melakukan pemupukan perlu diperhatikan pula keadaan cuaca, karena jika melakukan pemupukan di saat hujan turun maka akan terjadi pencuncian unsur hara, sehingga unsur hara yang di serap oleh akar tanaman akan diperoleh sedikit, dan juga kadar dosis untuk pemupukan tanaman per hektar perlu diperhatikan agar dapat mengurangi perkembangbiakan organisme pengganggu tanaman (OPT), serta memahami sifat fisik, kimia dan biologi tanah atau dengan kata lain tingkat kesburannya, agar pertumbuhan tanaman karet bisa memberikan hasil yang produktif.

Catatan: Tambahkan Pupuk Plant Activator untuk penyempurnaan unsur hara / nutrisi agar didapat hasil produksi yang optimal.